Pages - Menu

Wednesday, September 10, 2014

Bila Akhawat Jatuh Cinta

Saya suka catatan ini : 

*********************

Bismillah..

Akhawat jatuh cinta ?
Tak ada yang aneh, mereka juga adalah manusia. 
Bukankah cinta adalah fitrah manusia?
Tak pantaskah akhawat jatuh cinta? 
Mereka juga punya hati dan rasa.

Tapi tahukah kalian betapa berbedanya mereka saat cinta seorang lelaki menyapa hatinya? 
Tak ada senyum bahagia, tak ada rona malu di wajah, tak ada buncah suka di dada.

Namun sebaliknya,
Ketika akhawat jatuh cinta.
Yang mereka rasakan adalah penyesalan yang  amat sangat, atas sebuah hijab yang tersingkap.
Ketika lelaki yang tak halal baginya, bermain-main  dlm alam fikiran, yang  mereka rasakan adalah ketakutan yang besar akan cinta yang tak suci lagi. 
Ketika rasa rindu mulai merekah d hatinya, yang mereka rasakan adalah kesedihan yang tak terperih akan sebuah asa yang  tak semestinya..

Tak ada senyum bahagia, tak ada rona malu.
Yang ada adalah malam-malam yang dipenuhi air mata penyesalan atas cintaNya yang ternodai.
Yg ada adalah kegelisahan, kerana rasa yang  salah arah.Yg ada adalah penderitaan akan hati yang mulai sakit.

Ketika akhawat jatuh cinta.
Bukan harapan untuk  betemu yang mereka nantikan, tapi yang ada adalah rasa ingin menghindar dan menjauh dari orang tersebut. 
Tak ada kata2 cinta, dan rayu.Yang ada adalah kekhuatiran yang amat sangat akan hati yang mulai merindukan lelaki yang belum halal atau bahkan tak akan pernah halal baginya.

Ketika mereka jatuh cinta, maka perhatikanlah, kegelisahan di hatinya yang tak mampu lagi memberikan  ketenangan di wajahnya yang dulu teduh.
Mereka akan terus berusaha mematikan rasa itu walau bagaimanapun caranya.
Bahkan jika dia harus menghilang, maka itu pun akan mereka lakukan.

Alangka kasihannya jika akhawat jatuh cinta.. Kerananya ada adalah penderitaan.

Tapi ukhti.,
Bersabarlah.
Jadikan ini ujian dari Rabbmu.
Matikan rasa itu secepatnya.
Pasang tembok pembatas antara kau dan dia.
Pasang duri dalam  hatimu agar rasa itu tak tumbuh bersemai.
Cuci dengan air mata penyesalan akan hijab yang tersingkap.
Putar balik kemudi hatimu, agar rasa itu tetap terarah padaNya.
Pupuskan rasa rindu padanya dan kembalikan dalam hatimu rasa rindu akan cinta Rabbmu..

Ukhti.
Jangan khuatir kau akan kehilangan cintanya.
Kerana bila memang kalian ditakdirkan bersama, maka tak akan ada yang dapat mencegah kalian bersatu.
Tapi  ketahuilah, bagaimanapun usaha kalian untuk bersatu, jika Allah tak menghendaki, maka tak akan pernah kalian bersatu..


Ukhti,
Bersabarlah.. 
Biarkan Allah yang mengaturnya.. 
Maka yakinlah.. Semuanya akan baik-baik saja..

************************

Tetap ianya adalah manusia biasa.
Namun itulah yang membezakan kita dengan yang lain.



SyauqahNHH 
Yusuf:18

Tuesday, July 15, 2014

Saya Dan Ramadhan

Bismillah..

Alhamdulillah,Ramadhan sudah masuk fasa kedua. *senyum.

Ramadhan kali ini saya rasa sangat berbeza dengan Ramadhan yang sebelum ini. Terasa ada yang istimewa untuk Ramadhan kali ini. Masih saya ingat lagi,bila tiba malam pertama terawih,excited sungguh saya dan ahlulbayt. Memakai pakaian yang terbaik serta memilih telekung yang terbaik. Tersenyum-senyum sepanjang memandu ke masjid negeri.

Kalau ditanya pada saya , apa yang istinewanya Ramadhan kali ini, saya memang tidak punya jawapan yang pasti. Saya cuma rasa teruja saja. Dan memang saya rasa perbezaan dengan Ramadhan yang tahun-tahun sudah. Ramadhan tahun ini pula saya dan ahlulbayt memang tidak memasak di Annur. Boleh dikatakan dapur rumah kami tidak berasap,hehe. Sebabkan setiap petang kami akan berbuka di masjid atau surau. Masjid hopping. Sudah separuh bulan Ramadhan berlalu, sudah beberapa masjid dan surau di sekitar Shah Alam kami pergi untuk iftar dan terawih. Pening juga sebab bila tiba waktu untuk berbuka saya,masing-masing pening memikirkan nak berbuka dan terawih di mana. *senyum.

Untuk Aidilfitri tahun ini , saya belum lagi terfikir apa-apa persiapan. Hanya membeli sepasang jubah dan saya rasa jubah-jubah yang ada masih boleh dipakai lagi. Aidilfitir tahun ini , jujurnya , saya tidak teruja seperti mana saya teruja dengan Ramadhan tahun ini.

Dan saat ini , saya sedang menghitung-hitung untuk 10 malam terakhir Ramadhan. Sehinggakan seorang guru di sekolah saya pun perasan yang saya terlalu teruja dan berdebar-debar untuk 10 malam terakhir Ramadhan ini ;')

Allah..
Banyak sangat perkara yang saya perlu beritahu-Nya walaupun Dia memang Maha Mengetahui.

Ramadhan , kan ianya pesta ibadah. Pesta doa. Jadi kenapa nak disia-siakan ?

Aih! Saya sudah terlalu excited. Kemudian saja saya sambung. Lagipun mata sudah mula mengantuk.
Ketemu lagi lain masa,Insha Allah.


Tuesday, April 1, 2014

Untukmu Yang Berpimpinan Tangan Denganku


Saudariku dicintai fillah,

Lihatlah detik kian berlalu, hari-hari berganti siang dan malam ,matahari terus bersinar tiada bosan dan bumi pun berputar pada porosnya tiada henti, bulan dan bintang tak jemu menghiasi keindahan malam hari, semua itu berjalan atas ketentuan dari ilahi dan akan terus berjalan sampai batas waktu yang ditentukan-Nya.

Saudariku buah hatiku,
Beranjak dari kehidupan ini, manusia lahir dan tumbuh berkembang, hidup kemudian mati sesuai kudrat Allah yang Maha Kuasa, yang kemudian menjadi catatan sejarah yang kadang pun manusia tiada belajar dari sejarah itu. Berapa banyak manusia yang menutup lembaran kehidupannya dengan sia-sia dan tiada guna di akhirat, berapa banyak pula kisah-kisah yang disodorkan kepada kita melalui kalam-Nya yang mulia, terkadang pun kita sebagai manusia lengah akan hal itu pula.

Kita sebagai khairu ummatin yang dilahirkan ke atas bumi, sebagai ummatun wahidah, sebagai penyeru amar ma’ruf nahi munkar dan sebagai mukmin yang mengharap keredhaan-Nya agar bisa memperoleh jannatunna’im, harus menyadari akan makna, hakikat, ibrah dari kehidupan yang singkat ini. Mukmin yang sejati, merasai hidup ini adalah perjuangan, penuh halangan dan rintangan, tetapi ia selalu tabah menghadapinya, ujian yang ia rasai hanyalah ia anggap nikmat dari-Nya bukan azab.

Saudariku disayangi fillah
Kadangkala kita lengah akan hidup yang kita jalani, kadangkala tak berada di jalan yang lurus, sifat-sifat syaitani telah merosaki niat kita, melemahkan azam dan membelokkannya dari jalan yang lurus. Rasa iri, riya, dengki dan hasad telah menutupi hati kita dari kebersihannya untuk berjuang di jalan-Nya.

Semakin kotor hati kita, semakin pula kusam dan pekat hati kita, kegelapan yang ada menyertai. Dan cahaya ilahi pun sirna oleh kehitamannya. Nur itu yang menunjukki dan membimbing kita ke jalan lurus, sirna oleh kotornya hati kita.

Jika dahulu cahya itu menerangi kalbu kita, sehingga kita selalu tersenyum tatkala bertemu wajah dengan saudara seiman, tetapi lihatlah sekarang, cahaya yang sirna telah membuat hati kita hasad, bertemu saudara pun hanya cibiran wajah yang terlihat.

Saudariku sayang,
Jika cahaya itu juga menerangi kalbu kita, sehingga senantiasa kita rajin melaksanakan qiyamullail dan terasa nikmat tatkala kita bermunajah di malam yang sepi, sirnanya nur di hati membuat kita enggan melaksanakannya lagibahkan kita merasa berat. Kita merasa sudah melaksanakan kewajiban 5 waktu, walaupun telat, sunnah tak perlu kita lakukan lagi. Masya Allah.

Kotornya hati telah membuat malas untuk beribadah, untuk tilawah, untuk shaum sunnah yang selalu di anjurkan junjungan kita, Rasullah s.a.w. Do’a iftitah (pembuka) di dalam solat kita, inna sholati wannusuki wa mahyaya wamamaati lillahi rabbil ‘alamin (…sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah tuhan semesta alam..) tak pernah terealisasi dalam hidup kita. Kita sering melanggar, melawan bahkan lupa mengingati-Nya.

Tapi kita tak mau disebut orang yang derhaka, munafik kepadaNya, lalu kita ini apa ? menyatakan janji tapi tak pernah menepati ?

Saudariku,
Sirnanya cahaya di hati itu pula telah membuat kita sering melawan dan membangkang kepada ibu, ayah kita. Mereka yang selama ini mendidik dan membimbing kita menjadi anak yang berguna, kini melawan. Kuasa apa kita ini, mereka kini semakin tiada berdaya dan lemah menghadapi perlakuan kita yang tiada benar di hadapan mereka. Ibu kita sering menangis, ayah kita semakin murung. Mereka sering bertanya dalam hati, anak yang telah dikandung selama -+ 9 bulan, kini tiada guna, anak yang telah disusui selama -+ 2 tahun kini membuang habis kasih sayang yang selama ini telah diberikannya.

Wahai saudariku,
sirnanya cahaya telah membuat dan menjadikan kita seperti itu.

Saudariku fillah,
Hari ini, marilah kita bertaubat, kembali kepada-Nya dan memohon ampun atas segala dosa dan kekotoran hati kita, mohon maaflah kepada ayah dan ibu kita, nyatakan kita cinta dan sayang mereka. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang berserah diri.

Semoga jannatunna’im, haruman Raihan dan manisnya telaga salsabila kelak akan kita peroleh. amin. Hadiyanallah wa iyyakum ajmain. Afwan.


Monday, March 31, 2014

Apa Yang Dirasa

Kadang-kadang kita merasakan diri kita berilmu, walhal “air mata” ilmu yang terbit daripada dada kita sangat sedikit. Kadang-kadang kita merasakan diri kita hebat apabila orang menyanjung dan memuji kita, walhal itu semua muslihat Iblis untuk menyesatkan kita.

Amalan seseorang yang banyak adakalanya menjadi modal untuk Iblis memperdayakan kita agar kita berbangga dan riak dengan kelebihan yang Allah pinjamkan. Amal yang sedikit turut dipergunakan oleh Syaitan dengan menimbulkan perasaan sentiasa berprasangka Allah akan mengampuni kekurangan diri tanpa sekelumitpun rasa ingin menambahkan amalan untuk mendapatkan keredhaan Allah.

Penyakit orang kaya adalah bakhil. Penyakit orang miskin adalah malas. Penyakit orang berilmu adalah takabbur. Penyakit orang bodoh adalah tiada keinginan. Penyakit orang beramal adalah ‘perasan’.

Orang yang banyak beramal merasakan dirinya hebat dan disegani. Lalu apabila dia berjalan, dia tunduk semacam tawadhu’ walhal Syaitan dalam jubahnya. Dia bercakap lembut agar dikata orang sebagai orang yang lembut hati walhal dalam hatinya tersimpan suatu perasaan takabbur yang tinggi. Apabila dia bercakap, dia merasakan semua orang memerhatikan kata-katanya. Syaitan telah memperdayakan pandangan mata hatinya, lalu dia menganggap yang buruk itu baik dan yang baik itu sebaliknya.

Orang yang banyak dosa pula sentiasa berharap dengan kalimah Allah yang Maha Pengampun. Dia terlupa Allah juga keras seksaan-Nya. Allah ciptakan neraka sebagaimana Allah turut menciptakan syurga. Neraka untuk orang yang buruk perilakunya, dan juga untuk orang yang baik perilaku tetapi buruk hatinya. Syurga pula untuk orang yang benar-benar bersih daripada sebarang karat kekotoran, jika ada sekalipun, ia terlindung di sebalik rahmat Illahi.

Sesetengah orang berilmu apabila berbicara, maka penuh mulutnya dengan pancaran ilmu yang mempesonakan, walhal hati mereka cemar dengan pendustaan. Mulut mereka berkata benar sedangkan hati mereka menidakkannya. Dia mengatakan cinta akhirat tetapi dia sendiri kelihatannya sibuk mengejar dunia. Dia menyebut perihal zuhud sedangkan jiwanya diselimuti perasaan cintakan dunia berlebihan.

Mungkin orang lain mendapat manfaat di sebalik ilmunya yang melangit, tetapi dengar hanya sekadar dengar. Disimpan dalam otak tetapi tidak di hati. Kepalanya makin membesar dengan ilmu yang sarat tetapi hatinya dipenuhi kotoran pelbagai penipuan. Mereka pakar berbicara dalam pelbagai bidang, aqidah mahupun akhlak, tasawuf juga barangkali tetapi hanya lidah menuturkannya sedangkan hati menafikan. Katanya pejuang Islam tetapi lagaknya berlainan.

Orang yang bersih hati pula, kata-kata mereka mungkin tidak membawa mesej keilmuan yang tinggi, tetapi apabila mereka berbicara, ia mengusik jiwa yang mendengar. Apabila dia menyebut soal dosa, yang mendengar akan terbayangkan neraka. Apabila dia menyebut tentang perjuangan, orang akan rindukan jihad. Apabila dia menyentuh soal ibadat, orang semakin rindukan waktu malam untuk bertahajud. Mereka tidak perlu berbicara.

Kerana akhlak mereka sudah berbicara sebelum lidah mereka bergerak. Apabila mereka ingin berucap, maka seluruh hati orang mula terusik dan menanti-nantikan mutiara kata yang terbit daripada lidahnya. Sekali orang mendengar, rindu akan bertapak dalam diri mereka. Alangkah mereka rindukan kata-kata orang yang bersih jiwanya yang mana mungkin ilmunya tidak banyak tetapi ia sangat memberi kesan.

Orang yang kotor sebaliknya. Berbuih mulutnya berbicara, namun orang hanya endah tidak endah, dengar tidak dengar. Orang mungkin rindukan pidatonya yang bersemangat, tetapi orang tidak rindukan mutiara kata darinya. Sekadar mendengar menambahkan semangat dalam satu atau dua jam, kemudian hilang berciciran di tengah jalan. Orang yang bersih hatinya, mungkin pidatonya tidak menarik tetapi jiwa sentiasa dibuai dan terusik.

Iblis berkata:

“Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahawa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis (orang-orang yang ikhlas beribadah kepada Allah)  di antara mereka.”

( Al-Hijr:)

Monday, March 24, 2014

Tatkala Mata Terbuka

Setiap bangun tidur dan membuka mata,yang terucap adalah kalimat syukur kerana Allah masih mengizinkan diri ini kembali melihat fajar.Merasai hembusan angin bayu pagi yang menerobos celah jendela dan menjumpai semua yang semalam terlihat sebelum mata terpejam masih seperti sedia kala, tidak ada yang berubah.
Kemudian melangkahlah dengan iringan doa di gerbang mungil menuju arena perjuangan kehidupan,dengan tuntutan-Nya lah diri ini tak melangkah ke jalan yang salah,tak menjamah yang bukan hak,tak melihat yang dilarang,tak memamah yang tidak halal,tak mendengar yang batil,dan tak banyak melakukan sia-sia.Kerana setiap waktu yang terlewat pasti akan ditagih tanggunjawabnya.Lantaran semua jalan yang dilalui akan diminta kesaksiannya atas diri ini dan sebab seluruh indera ini akan diminta bicara tentang apa-apa yang pernah tercipta.

Hari ini, masih ada lalai. Saya juga tidak terkecuali. Seringkali lalai dalam meniti kehidupan ini. Masih juga lengah sehingga khilaf tercipta.Mesti segunung peringatan pernah didengar,mulut ini masih terselit berucap dusta,saringan telinga ini tetap tak mampu membendung suara-suara melena lalaikan dan masih saja ada perbuatan yang salah,walau itu dalam bingkai alpa.Padahal,di setiap terminal ruhiyah.Sedikitnya 5kali sehari lidah ini berucap,tangan ini tertengadah dan mata ini menitikkan butir bening,seraya memohon perlindungan dari Allah dijauhkan dari salah dan dosa.Tetapi, masih juga langkah ini menuju arah yang sesat.

Setiap hari menangis, setiap hari meminta ampunan,setiap hari mencipta dosa,esok sibuk bersujud,meluluhkan air mata,menyusun kalimah doa,mengayam pinta smeoga Allah menghapusnya,bahkan kadang lupa.Padahal,bisa saja sedetik kemudian diri ini tak lagi sempat memohon ampunan.Lupakah bahawa waktu sangat cepat berlalu.Lupakah pula bahawa menyesal di akhirat hanyalah kesiaan yang nyata?

Bagaimana jika hari esok tak pernah datang, padahal baru saja seharian ini berenang di lautan dosa,padahal belum sempat menghapus noda hari ini , kelmarin,seminggu yang lalu,setahun lalu dan bertahun-tahun yang lalu.Bagaimana jika Allah tak berkenan membukakan mata diri ini setelah sepanjang malam terlelap? Bagaimana jika perjumpaan dan canda riang bersama keluarga semalam adalah yang terakhir kalinya,ketika esok harinya ruh ini melihat seluruh keluarga menangisi jasad ini yang terbujur kaku berkafan putih.


Bagaimana jika matahari esok terbit dari barat, tak seperti biasanya dari timur? Padahal hari ini lupa menyebut nama-Nya.Padahal di hari ini,belum sempat mengunjungi satu persatu keluarga,kerabat,sahabat,tetangga dan orang-orang yang pernah tersakiti oleh lidah dan tindakan kita.Sudah terlalu lama tak mencium kaki orang tua mencari keredhaannya,walau tak terhitung salah diri.Belum lagi sempat berderma,setelah derma kecil beberapa tahun lalu yang sering kita banggakan.


Dan jika memang esok tak pernah datang.Sungguh celakalah diri ini.Benar-benar celaka, bila belum sempat mencuci dosa sepanjang hidup,bila belum mendengar ungkapan maaf dari orang-orang yang pernah terzalimi,bila belum menyisihkan harta yang menjadi hak orang lain,bila belum sempat meminta ampun atas segala salah dan khilafnya yamg tercipta.


Maka saat Allah masih memperkenalkan diri menikmati fajar ,mulaikan hari dengan kalimat’.


“Terima Kasih Allah”“Terima Kasih Allah”“Terima Kasih Allah”


Semoga kita semua beroleh keampunan dari ilahi atas segala kesilapan dan kejahilan kita sepanjang hidup bernama manusia..

Saturday, March 22, 2014

Bila Allah Berkehendak.

Tercungap-cungap meneruskan aktiviti harian sebagai seorang hamba. Kadang-kala cungapan itu lebih hebat dari taufan.Adalah wajar jika yang menjadi punca taufan itu orang luar kerana jika orang luar , bolehlah kiranya mengambil sikap tidak ambil peduli tapi bila saatnya orang akrab boleh hilang sabar dibuatnya. 

Ah! Tak perlu dipaksa hati ini untuk difahami, yang PENTING,diri sendiri perlu bertindak untuk memahami. Bukankah memahami untuk difahami ?Walau bagaimana sakitnya hati , seksanya jiwa , ia perlu terus diubati walaupun sakit.Hanya tuhan yang mengerti.

Haih..! Manusia dunia ini tidak pernah berhenti bukan..? Berhenti dari menyoal.Tidak akan pernah berhenti dari menyoal. Ada saja soalan2 yang mahu di”tembak”.Saat masih belajar ,ditanya bila nak habis, andai dah habis belajar ditanya bila nak kerja atau kahwin, bila dah kerja ditanya gaji pulak, bila dah kahwin ditanya bila nak ada anak..dan bla..bla..bla.Kadang kala bila berhadapan dengan soalan2 seperti ini , diam dan senyum adalah jawapan yang PALING BAIK sekali.

“Kalau Allah sudah kata ya,tiada siapa boleh persoalkan lagi”

Maaf. Pendek saja entry kali ini.


Tuesday, March 18, 2014

Tentang Rasa

Saya masih berkira-kira lagi. Mahu menulis atau tidak. Setiap hari, idea tak jemu-jemu menyinggah di kotak pemikiran saya, yang selalu membuatkan saya rasa terdesak untuk menulis. Namun, saya masih buntu memikirkan bagaimana ayat-ayat tersebut perlu disusun. 

Jika saya mahu katakan kehidupan saya lebih baik dari sebelum ini , ya, saya akui akan hal tersebut. Teringat perbualan saya bersama seorang akhawat ketika pulang dari kerja bersama-sama. Kebetulan dia yang memandu. 

"Kak , kita rasa bersyukur sangat dengan setiap yang Allah tulis untuk kita sekarang. Sebab kita rasa kalau Allah tak takdirkan perkara yang teruk-teruk pada kita sebelum ini , mungkin kita tak jadi macam sekarang. Cantiknya susunan Allah untuk kita kan..? " Ujar nya.

Saya jadi terdiam dan tersenyum seketika. Inilah satu-satunya perkara yang saya sukai bila memandu bersama akhawat kerana sepanjang tempoh memandu , perkara yang biasanya kami perkatakan mesti berkaitan dengan ummah. Contohnya seperti usrah , politik , masalah bagaimana nak membina anak usrah dan sebagainya. 

"Mestilah . Allah dah tulis cantik-cantik skrip kehidupan kita ni." Bila saya renung-renungkan setiap perkara yang terjadi dalam hidup saya , sedalam-dalamnya saya fikirkan , saya tahu , ada hikmah yang sangat cantik yang Allah telah susun untuk saya. Jika Allah tak takdirkan saya gagal , tidak takdirkan hati saya terluka , tidak takdirkan air mata saya ini jatuh , pastilah saya bukan yang sekarang. Pasti saya bukan manusia yang cukup kuat.

Baru-baru ini , ketika berprogram,menerima taujihat dari seorang akhawat dari Gombak. Tarbiyyah Dzatiyah (baca : pendidikan diri). Entah bagaimana,saat diminta oleh naqibah untuk sharing sedikit tentang TD ini selepas mathurat pagi itu, suara saya bergetar-getar untuk berkongsi. Dan akhirnya airmata saya jatuh. Saya sangat terkesan dengan kisah Ja'afar Bin Abi Talib yang mana beliau tidak tinggal hampir dengan Rasulullah saw selama bertahun-tahun,tapi kerana tarbiyyah dzatiyahnya yang mantap,dia masih mampu bertahan dengan Islam. Saya sendiri ketika mana berada jauh dalam suasana tarbiyyah,pernah futur. Itu yang membuatkan saya mengalirkan airmata ketika diminta berkongsi. Entah berapa banyak dosa telah dilakukan. Tidak terkira-kira. Mahu berdosa itu mudah sangat. Tapi untuk delete dosa-dosa itu, mujahadahnya pasti perlu lebih kencang.



Saya yakini,setiap perkara yang terjadi itu,ada hikmahnya. Bagaimana Allah pernah memisahkan saya dari dunia tarbiyyah,bagaimana Dia menguji hati saya dan sebagainya. Ada sesuatu yang Allah mahu ajar pada kita. Pendidikan secara direct dari Allah. Tak perlu rasanya berkeluh kesah mengapa begini dan begitu,sebab pasti ada sesuatu tentang itu. Bukan kah Allah sentiasa berikan yang terbaik untuk hambaNya? (senyum)

Ketika tubuh berada dalam pelukan naqibah, sempat naqibah berbisik,

" Teruskan mujahadah Hidayah.."